Haruskah Anak Didampingi Saat Belajar?

“Aduh, anakku besok ujian nih, jadi hari ini terpaksa izin pulang lebih cepat. Soalnya dia harus ditemani saat belajar. Tak bisa orang lain pula, harus saya.” Begitu cerita Dita, 36 tahun, seorang ibu pekerja.

Bukan hanya Dita, banyak cerita serupa berselieran di berbagai komunitas ibu. Entah yang bekerja, atau memilih jadi ibu rumah tangga penuh. Bahkan tak sedikit ibu yang kemudian kerepotan menelpon para orang tua lain untuk menyocokkan kelengkapan materi pelajaran yang dimiliki buah hatinya.

Tak merasa cukup dengan semua itu, sebagian orang tua masih menambah les pelajaran, baik secara privat atau di lembaga tertentu. Tujuannya, tak lain agar anak dapat menyelesaikan tugas, dalam hal ini ujian di sekolah, sehingga mendapat nilai yang baik. Bahkan kalau bisa berprestasi di antara teman-temannya.

Orang Tua Harus Bijak

Apalagi sejak diberlakukannya peraturan Ujian Nasional (UN). Tekanan pada anak-anak semakin besar. Mereka dituntut mampu mengerjakan semua soal yang telah disediakan negara untuk dinyatakan lulus pendidikan jenjang tertentu. Banyak pihak memprotes dan mendiskusikan kebijakan ini. Tapi toh semua harus dihadapi. Yang bisa dilakukan hanyalah memastikan anak-anak punya persiapan yang matang.

“Yang menjadi pertanyaan adalah, apakah setiap anak mampu menjalankan semua persiapan tersebut?” ujar Roslina Verauli, M.Psi, Psikolog Anak dan Remaja dari RSPI.

Roslina mengingatkan, orang tua harus bijak dalam melakukan pendampingan. “Kita tak boleh melupakan kodrat anak-anak, mereka masih punya kegiatan lain yang sesuai dengan minat dan bakatnya. Belum lagi mereka pun harus tetap dapat menikmati dan menjalankan kegiatan sosial sebagai anak pada umumnya,” lanjutnya dalam sebuah perbincangan di Grand Indonesia, baru-baru ini.

Karena itu kata dia, menjadi orang tua memang butuh manajemen yang bagus. Saat mendampingi anak-anak belajar misalnya, harus dipastikan apakah teknik yang dijalankan benar-benar efektif.

“Jangan sampai karena jadwal yang mereka jalani terlalu padat, materi yang harus diserap juga terlalu banyak, akhirnya membuat waktu belajar terbuang sia-sia karena tidak ada yang ‘nyangkut’,” Roslina mengingatkan.

Ia kemudian menyoroti banyaknya orang tua yang mendaftarkan anaknya di lebih dari satu bimbingan belajar. Sudah mengikuti kegiatan wajib belajar di sekolah, ditambah lagi menambah jam belajar di rumah selepas sekolah. Ia mengingatkan lagi, bisa jadi langkah ini justru dapat menurunkan minat belajar anak.

“Jika peraturan dibuat terlalu ketat, walaupun dengan tujuan yang postif, anak dikhawatirkan akan semakin tertekan. Ujung-ujungnya malas menjalankan semua persiapan untuk menyambut ujian,” Roslina menyayangkan.

Buat Kesepakatan

Cara terbaik menurut Roslina, adalah membangun komunikasi secara intensif dengan buah hati. Lihat dan telisik lebih dalam apa-apa saja yang mereka butuhkan saat belajar.

Roslina menilai, langkah terbaik bagi para orang tua adalah membicarakan secara terbuka dengan putra-putrinya untuk mencapai kesepakatan bersama.

“Cek kembali target apa yang harus dicapai oleh anak-anak kita. Lalu tanyakan juga kegiatan atau program seperti apa yang dapat mereka jalankan dengan kemampuan dan menyamanan mereka. Usahakan kesepakatan tidak dilanggar,” pesannya.

Kesepatakan yang dimaksud misalnya apakah anak lebih nyaman belajar di rumah usai kegiatan sekolahnya. Atau bisa saja jadwal les dibuat sefleksibel mungkin, sehingga anak tidak merasa tertekan harus belajar seharian penuh.

Jika sudah mencapai kesepakatan bersama, Roslina berpesan, para orang tua tidak ragu menerapkan punishment. Cara ini tentunya akan membuat anak lebih disiplin dan bertanggung jawab terhadap apa yang mereka pilih. Ganjaran ini harusnya tidak hanya berlaku untuk anak namun juga pada para orang tua.

“Kesepakatan yang sudah dibuat haruslah menjadi komitmen bersama dan tidak boleh ada yang melanggarnya. Jadi antara anak dan orang tua semacam dibangun trust satu sama lain,” jelasnya.

Previous Post

No more post

You May Also Like