Ekstra Pengawasan Belajar Untuk Anak Remaja

Beberapa orang tua mengaku, dibandingkan anak yang masih duduk di sekolah dasar, memberikan pengawasan pada para remaja tergolong lebih sukar. Pada masa ini, sebagian anak menunjukkan pemberontakan. Salah satunya enggan bersentuhan dengan buku pelajaran. Kalau sudah begini, orang tua harus bagaimana?

Roslina Verauli, M.Psi, Psikolog Anak dan Remaja mengatakan bahwa di usia remaja seorang anak memang sudah mulai mandiri dalam menghadapi informasi. Namun karena ini merupakan masa transisi, cara berpikir mereka masih kerap berubah-ubah. Pengaruh pergaulan dan lingkungan sekitar juga cukup besar.

Pada umumnya, anak remaja punya emansipasi individual, ingin terlihat mandiri, tak lagi diatur-atur seperti anak kecil.

“Anak remaja sudah punya kemandirian dan bertanggung jawab pada dirinya sendiri. Apalagi jika disuruh belajar memang tergolong sulit,” ujar Roslina.

Yang bisa dilakukan orang tua ialah melakukan tarik ulur. Ketat mengawasi dari jauh, namun mulai mengurangi peran ketatnya pada sebuah peraturan. Sebab, jika terlalu ketat, meski tujuannya positif, bisa jadi anak justru semakin malas.

Sesekali, beri stimulus ke anak dengan mengingatkan apa yang menjadi cita-cita mereka. Dengan begitu anak akan merasa lebih sigap menghadapi masa depan mereka.

Langkah demikian, jelas Roslina, dapat membuat anak berpikir dan menstimulasi apa yang menjadi keinginannya di masa kecil. Orang tua tinggal memicu mereka memiliki cita-cita yang positif.

“Jangan lupa juga untuk selalu menyiapkan kebutuhan apa yang diperlukan anak, itu sudah menjadi kewajiban kita sebagai orang tua,” tukasnya.

You May Also Like